Berani melangkah
For millions of years, mankind lived just like the animals. Then something happened which unleashed the power of our imagination. We learned to talk and we learned to listen... -Stephen Hawking
Senin, 21 Maret 2016
" Rekontruksi Pemahaman DN. Aidit tentang Pancasila "
Siapa orang yang membaca sejarah Indonesia pasti akan tahu siapa orang ini. Dipa Nusantara Aidit atau lebih dikenal dengan DN Aidit. ialah tokoh sentral CC PKI. Aidit identik dengan sejarah bangsa dalam peristiwa berdarah yaitu kudeta 30 September 1965.
Rakyat yang terdidik secara ilmiah perlahan tapi pasti akan menemukan sambungan dari retakan retakan sejarah peristiwa G 3O S PKI. Namun, saya kali ini bukanlah membahas kejanggalan peristiwa G 30 S PKI namun untuk membahas sedikit tentang pemahaman Aidit mengenai Pancasila. Pemikirannya nya tentang Pancasila dan sikapnya terhadap Pancasila ditulis di bukunya " Revolusi Indonesia" rangkaian kuliah kuliah. Menarik bahwa selama ini Aidit dan partainya dianggap pengkhianat Pancasila lalu sampai hari ini rakyat peringati peristiwa tersebut sebagai hari kesaktian Pancasila.
Aidit Menulis
" Oleh karena Pancasila objektif dan ilmiah, maka kaum Marxis yang berpandangan materialistis,
(iatu meninjau sesuatu dengan bertolak belakang atau kenyataan objektif), menerima Pancasila keseluruhan tanpa reserve. Pancasila menjadi dasar negara RI, karena ia filsafat persatuan atau alat pemersatu bangsa Indonesia "
Dalam rangkaian kuliahnya kepada kader kader komunuis partainya Aidit mentafsir Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa. Lalu bagaimana pemahamannya tentang Tuhan yang terkandung dalam Pacasila sedangkan doktrin Marxis menganggap agama sebagai candu
Aidit menulis
" Penerimaan Pancasila tidak berarti bahwa golongan Islam lalu meninggalkan Islamnya begitu pula dengan golongan lainnya."
Di buku "Revolusi Indonesia" DN Aidit mengutip tafsir bung Karno yang dia lah sang penggali Pancasila itu sendiri dalam pidato RESOPIM
" Jangan menggunakan Pancasila untuk memecah belahkan Nasakom, jangan mempertentangkan antara kaum yang satu dengan kaum yang lain, Islam, Komunis, Katholik dan lain lain
Selanjutnya Aidit menjelaskan bahwa Komunisme adalah paham politik bukan agama, Selanjutnya ia membantah bahwa kader kader PKI adalah Atheis
Masih mengutip tafsiran bung Karno sang penggali nilai nilai Pancasila dalm pidato RESOPIM
" Siapa saja yang main main dengan Pancasila dengan maksud engak enggak dan kalau itu terjadi maka ia adalah orang yang sama sekali tidak mengerti Pancasila, atau durhaka, GILA
Kemudian Aidit dalam rangkaian kuliahnya menjelaskan tentang Budi Nurani Sosial iatu Social Consciousness of Man. Aidit menulis
" Keadilan sosial, kemerdekaan invidu, kemerdekaan bangsa bangsa itu pencuatan ( perwujudan) dari Social Conscouness of Man "
Penulis ditanam filsafat pancasila oleh parah dosen dari pusat studi Pancasila. Menariknya jika memahami penafsiran Aidit tentang Pancasila yang relevan, ada keraguan bahwa partai Komunis Indonesia akan durhaka kepada Pancasila.
Aidit mentafsir Pancasila dari sifat masyarakat Indonesia
" Ditinjau dari sifat masyarakat Indonesia, Pancasila memang mencerminkan ide-ide dari kelas dan kekuatan kekuatan sosial yang menuntut kebebasan. "
Aidit sendiri sudah mentafsir filosfiche gronslag pancasila sebagai perjuangan kelas yang dimana perjuangan kelas adalah hakekat dari Marxisme.
Sumber
Revolusi Indonesia " DN Aidit "
Sabtu, 19 Maret 2016
" Kebuntuan Negara - Negara Merah "
Dalam tradisi hegel yang mempengaruhi cara berpikir klasik marxisme iatu " proses itu akan terus berlangsung sampai tercapai suatu situasi dimana semua kontradiksi internal terselesaikan. Kontradiksi internal iatu kontradiksi utama yang merupakan hakekat dari dialektika materialis.
Pertanyaanya, dalam kondisi apa dan situasi di zaman apa semua kontradiksi selesai ?
Banyak para penafsir marxisme klasik merujuk pada periodisasi sejarah yang menurut saya cara pandangnya begitu ekonomis sekali. Sejatinya Marx memang dikenal sebagai ekonom pada zamannya. Bicara tahapan tahapan tahapan historis menurut faham marxis tahapan periodesasi dimulai dari komunal primitif, feudal, kapitalisme, sosialisme, berakhir pada cita cita komunisme. Untuk menuju pada tahapan final iatu komunisme, maka cara yang paling dianjurkan oleh kamerad Vladimir Lenin iatu Revolusi Proleriat. Meskipun penafsiran tentang metodologi revolusi itu menjadi perdebatan seru antara Lenin dan Kautsky pra- Revolusi Besar Oktober hingga Eduard Bernstein yang oleh mereka dilaknat menjadi reformis. Historisme berdasarkan pemahaman marxisme klasik pada dialektika materialisme ini kemudian bisa menimbulkan pertanyaan seru
Apa tahapan periodisasi sejarah berikutnya pasca kebuntuan komunisme di negara negara yang menganutnya ? ( lihat RRC dan runtuhnya Uni Sovyet )
Argumentasi nyonya Tatiana Lukman dalam bukunya "Altenatif" begitu menarik, iatu semua kehancuran dikarenakan kaum kaum revisionis yang berkawin dengan komprador. Semua ini menurut " Altenatif " ada karena reform reform kapitalisme. Tapi faktanya negara negara tadi meninggalkan paham MDH secermat apa pun kaum marxis mendiagnosa sebab-musababnya mereka tak akan kembali ke gagasan gagasan lama yang katastrofi dan utopia.
Marx dan Lenin almarhum tlah meleset. Eksistensi pemikiran mereka diantara ada dan tiada. Banyak ilmuwan dan akademisi yang awalnya begitu kagum dengan pemikiran itu malah berbalik menganggap pemikiran ( Materialisme Dialektia Historis ) adalah mesin rusak. Ilmuwan mazhab Frankfrut yang berawal dari epistimologi kiri malah menghancurkan sari pati pemikiran MDH itu sendiri. Sederhananya lagi, mazhab frankfrut ada sebagai kritik terhadap kediktatoran kamerad Stalin.
Bagi saya MDH sebagai filsafat mengalami kebuntuan baik ditafsirkan secara murni ataupun secara revisionis. Karena bicara masalah tafsir berarti satu bagian dengan implementasinya juga
Hegel, Marx dan Feurbach tidak pernah menduga hal yang kekinian yaitu globalisasi sesuai dengan pendapat Giddens. Kajian tentang marxisme dan filsafat konteporer yang saya baca berulang ulang dan jadi bahan diskusi (ditulis oleh bung Martin Surajaya) sungguh " ngejelimet " hanya bisa diterima sebagai ilmu dan bagi saya sulit berdiri di tatanan praxis
Daftar pustaka
"Altenatif " Tatiana Lukman
"Epistimogi kiri" oleh Listyono Santoso dkk
"Materialisme Dialektis sebuah kajian tentang marxisme dan filsafat kontemporer" Martin Surajaya
Langganan:
Postingan (Atom)
